Jumat, 15 Januari 2010
Dampak Negatif dan Positif konsumsi Sambal
dampak positif :Sambal, bahan utamanya ya tentu saja cabai rawit. Yang ternyata juga mengandung vitamin C dan Betakaroten (Pro Vit. A). Zat yg terkandung pada cabai mengalahkan buah-buahan seperti Mangga, Nana, atau Semangka. Bahkan kadar mineral, terutama kalsium dan fosfornya mengalahkan kandungan mineral yang ada pada Ikan.
Salah satu bagian yang membuat cabai pedas adalah “kapsaisin” yang tersimpan pada urat putih cabai atau tempat melekatnya cabai. Dan tentu saja khasiat terbesar pada cabai terletak pada kapsaisin ini. Sehingga jika ingin mendapatkan khasiatnya mending tidak usah diilangin klo takut pedas, cukup ambil sedikit aja sambalnya.
Menurut Kesehatan, kapsaisin bersifat antikoagulan, yaitu menjaga darah tetap encer dan mencegah terbentuknya kerak lemak pada pembuluh darah. SEHINGGA… … orang yg suka makan sambal dpt memperkecil kemungkinan menderita penyumbatan darah (aterosklerosis), shg mencegah munculnya serangan stroke dan jantung koroner, SERTA impotensi.
Katanya lagi Kapsaisin juga baik dikonsumsi ketika sakit kepala menyerang. Rasa pedas dari kapsaisin dpt menghalangi aktifitas otak ketika menerima sinyal rasa sakit dr pusat sistem saraf. Shg rasa sakitnya akan berkurang. Pada saat yg sama Kapsaisin akan mengencerkan lendir , shg dpt melonggarkan penyumbatan pada tenggorokan dan hidung, termasuk “SINUSITIS”.
Biasanya kalo kita makan pedas, kebanyakan dari kita akan makan sambal lagi atau gak kapok-kapok pada hal sudah kepedesan luar biasa. Kenapa bisa begitu???
Karena komponen Kapsaisin pada cabe bersifat “STOMATIK” yakni dapat meningkatkan gairah makan. Selain itu Kapsaisin mempunyai kemampuan untuk merangsang produksi hormon endorfin, yg mampu membangkitkan sensasi kenikmatan, shg kita terus ingin menkonsumsinya.
Manfaat Kapsaisin :::::
Sebagai anti radang dan mengobati bengkak dan bisul.
dampak negatif :
Dapat menyebabkan seseorang menjadi pelupa dan kalo dikonsumsi secara berlebihan akan menyebabkan naiknya asam lambung dan sakit perut
Asal Usul Kota Malang

Masyarakat di luar Kota Malang, banyak mengidentifikasi nama tersebut bukan berasal dari kata malang yang memiliki makna menghalangi, namun lebih memahami kata tersebut, pada malang yang menunjuk pada nasib yang kurang baik. Istilah dengan pemahaman makna yang kedua ini, bisa kita lihat dari pemakaian semboyan Kota Malang yang dipakai oleh pemerintah kolonial yaitu Malang Nominor Sursum Moveor yang memiliki arti Malang Namaku, Maju Tujuanku. Semboyan ini mengisyaratkan mengacu pada makna kata malang sebagai nasib yang kurang baik, hal ini bisa dilihat dari kata setelah Malang Namaku yaitu kalimat Maju Tujuanku. Kalimat kedua ini merupakan kalimat yang menegasi kalimat yang pertama.
Kata malang dapat diartikan dalam bermacam-macam arti kata, mulai dari :
* malang = nasib yang kurang beruntung
* malang = menghalangi /membentang (basa jawa)
* malang = nama yang diberikan oleh pasukan Sultan Demak ketika mencoba menyerang untuk memperluaskan daerah kekuasaan. Kata ini berasal dari istilah malang-melintang.
* malang = Tuhan menghancurkan yang bathil dan menegakkan yang baik. Kata ini berasal dari istilah Malang Kucecwara. (Sesanti itu disyahkan menjadi semboyan Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Malang pada tanggal 1 April 1914.)
Tapi jangan salah,Nama Malang ternyata memiliki nilai historis yang cukup tinggi.
Dibawah ini merupakan sejarah kota kita tercinta ini dinamakan Malang.
Nama Batara Malangkucecwara disebutkan dalam Piagam Kedu (tahun 907) dan Piagam Singhasari (tahun 908). Diceritakan bahwa para pemegang piagam adalah pemuja Batara (Dewa) Malangkucecwara, Puteswara (Putikecwara menurut Piagam Dinoyo), Kutusan, Cilahedecwara dan Tulecwara. Menurut para ahli diantaranya Bosch, Krom dan Stein Calleneis, nama Batara tersebut sesungguhnya adalah nama Raja setempat yang telah wafat, dimakamkan dalam Candi Malangkucecwara yang kemudian dipuja oleh pengikutnya, hal ini sesuai dengan kultus Dewa - Raja dalam agama Ciwa.
Nama para Batara tersebut sangat dekat dengan nama Kota Malang saat ini, mengingat nama daerah lain juga berkaitan dengan peninggalan di daerah tersebut misalnya Desa Badut (Candi Badut), Singosari (Candi Singosari). Dalam Kitab Pararaton juga diceritakan keeratan hubungan antara nama tempat saat ini dengan nama tempat di masa lalu misalnya Palandit (kini Wendit) yang merupakan pusat mandala atau perguruan agama. Kegiatan agama di Wendit adalah salah satu dari segitiga pusat kegiatan Kutaraja pada masa Ken Arok (Singosari - Kegenengan - Kidal - Jago : semuanya berupa candi).
Piagam tahun 907 itu menerangkan bahwa orang-orang yang mendapat piagam itu adalah pemuja-pemuja batara dari Malangkucecwara, Putecwara Kutusan, Cilebhedecwara dan Tulecwara. Penyebutan nama-nama seperti Batara dari Malangkucecwara, putecwara dansebagainya membuktikan bahwa nama-nama itu adalah nama raja-raja yang pernah memerintah dan pada saat di makamkan di dalam candi lalu disebut Batara. Dengan disebutkannya piagamDinoyo, sekarang adalah Kelurahan Dinoyo, maka masuk akal jika candi malangkucecwara itu ada dekat Kota Malang sekarang.
Pusat mandala disebut sebagai panepen (tempat menyepi) salah satunya disebut Kabalon (Kebalen di masa kini). Letak Kebalen kini yang berada di tepi sungai Brantas sesuai dengan kisah dalam Pararaton yang menyebut mandala Kabalon dekat dengan sungai. Disekitar daerah Kebalen - Kuto Bedah - DAS Brantas banyak dijumpai gua buatan manusia yang hingga kini masih dipakai sebagai tempat menyepi oleh pengikut mistik dan kepercayaan. Bukti lain kedekatan nama tempat ini adalah nama daerah Turyanpada kini Turen, Lulumbang kini Lumbangsari, Warigadya kini Wagir, Karuman kini Kauman.
Pararaton ditulis pada tahun 1481 atau 250 tahun sesudah masa Kerajaan Singosari menggunakan bahasa Jawa Pertengahan dan bukan lagi bahasa Jawa Kuno sehingga diragukan sebagai sumber sejarah yang menyangkut pemerintahan dan politik. Penulisan Pararaton sudah . Namun pendekatan yang dipakai para ahli dalam menyelidiki asal usul nama Kota Malang didasarkan pada asumsi bahwa nama tempat tidak akan jauh berubah dalam kurun waktu tersebut. Hal ini bisa dibuktikan antara lain dari nama Kabalon (tempat menyepi) ternyata juga disebutkan dalam Negara Kertagama. Dalam kitab tersebut dikisahkan bahwa puteri mahkota Hayam Wuruk yaitu Kusumawardhani (Bhre Lasem) sebelum menggantikan ayahnya terlebih dahulu menyepi di di Kabalon dekat makam leluhurnya yaitu Ken Arok atau Rangga Rajasa alias Cri Amurwabumi. Makam Ken Arok tersebut adalah Candi Kegenengan.
Namun istilah Kabalon hanya dikenal dikalangan bangsawan, hal inilah yang menyebabkan istilah Kabalon tidak berkembang. Rakyat pada masa itu tetap menyebut dan mengenal daerah petilasan Malangkucecwara dengan nama Malang hingga diwariskan pada masa sekarang.
Sumber :
Kaskus
Kota Malang
Kata malang dapat diartikan dalam bermacam-macam arti kata, mulai dari :
* malang = nasib yang kurang beruntung
* malang = menghalangi /membentang (basa jawa)
* malang = nama yang diberikan oleh pasukan Sultan Demak ketika mencoba menyerang untuk memperluaskan daerah kekuasaan. Kata ini berasal dari istilah malang-melintang.
* malang = Tuhan menghancurkan yang bathil dan menegakkan yang baik. Kata ini berasal dari istilah Malang Kucecwara. (Sesanti itu disyahkan menjadi semboyan Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Malang pada tanggal 1 April 1914.)
Tapi jangan salah,Nama Malang ternyata memiliki nilai historis yang cukup tinggi.
Dibawah ini merupakan sejarah kota kita tercinta ini dinamakan Malang.
Nama Batara Malangkucecwara disebutkan dalam Piagam Kedu (tahun 907) dan Piagam Singhasari (tahun 908). Diceritakan bahwa para pemegang piagam adalah pemuja Batara (Dewa) Malangkucecwara, Puteswara (Putikecwara menurut Piagam Dinoyo), Kutusan, Cilahedecwara dan Tulecwara. Menurut para ahli diantaranya Bosch, Krom dan Stein Calleneis, nama Batara tersebut sesungguhnya adalah nama Raja setempat yang telah wafat, dimakamkan dalam Candi Malangkucecwara yang kemudian dipuja oleh pengikutnya, hal ini sesuai dengan kultus Dewa - Raja dalam agama Ciwa.
Nama para Batara tersebut sangat dekat dengan nama Kota Malang saat ini, mengingat nama daerah lain juga berkaitan dengan peninggalan di daerah tersebut misalnya Desa Badut (Candi Badut), Singosari (Candi Singosari). Dalam Kitab Pararaton juga diceritakan keeratan hubungan antara nama tempat saat ini dengan nama tempat di masa lalu misalnya Palandit (kini Wendit) yang merupakan pusat mandala atau perguruan agama. Kegiatan agama di Wendit adalah salah satu dari segitiga pusat kegiatan Kutaraja pada masa Ken Arok (Singosari - Kegenengan - Kidal - Jago : semuanya berupa candi).
Piagam tahun 907 itu menerangkan bahwa orang-orang yang mendapat piagam itu adalah pemuja-pemuja batara dari Malangkucecwara, Putecwara Kutusan, Cilebhedecwara dan Tulecwara. Penyebutan nama-nama seperti Batara dari Malangkucecwara, putecwara dansebagainya membuktikan bahwa nama-nama itu adalah nama raja-raja yang pernah memerintah dan pada saat di makamkan di dalam candi lalu disebut Batara. Dengan disebutkannya piagamDinoyo, sekarang adalah Kelurahan Dinoyo, maka masuk akal jika candi malangkucecwara itu ada dekat Kota Malang sekarang.
Pusat mandala disebut sebagai panepen (tempat menyepi) salah satunya disebut Kabalon (Kebalen di masa kini). Letak Kebalen kini yang berada di tepi sungai Brantas sesuai dengan kisah dalam Pararaton yang menyebut mandala Kabalon dekat dengan sungai. Disekitar daerah Kebalen - Kuto Bedah - DAS Brantas banyak dijumpai gua buatan manusia yang hingga kini masih dipakai sebagai tempat menyepi oleh pengikut mistik dan kepercayaan. Bukti lain kedekatan nama tempat ini adalah nama daerah Turyanpada kini Turen, Lulumbang kini Lumbangsari, Warigadya kini Wagir, Karuman kini Kauman.
Pararaton ditulis pada tahun 1481 atau 250 tahun sesudah masa Kerajaan Singosari menggunakan bahasa Jawa Pertengahan dan bukan lagi bahasa Jawa Kuno sehingga diragukan sebagai sumber sejarah yang menyangkut pemerintahan dan politik. Penulisan Pararaton sudah . Namun pendekatan yang dipakai para ahli dalam menyelidiki asal usul nama Kota Malang didasarkan pada asumsi bahwa nama tempat tidak akan jauh berubah dalam kurun waktu tersebut. Hal ini bisa dibuktikan antara lain dari nama Kabalon (tempat menyepi) ternyata juga disebutkan dalam Negara Kertagama. Dalam kitab tersebut dikisahkan bahwa puteri mahkota Hayam Wuruk yaitu Kusumawardhani (Bhre Lasem) sebelum menggantikan ayahnya terlebih dahulu menyepi di di Kabalon dekat makam leluhurnya yaitu Ken Arok atau Rangga Rajasa alias Cri Amurwabumi. Makam Ken Arok tersebut adalah Candi Kegenengan.
Namun istilah Kabalon hanya dikenal dikalangan bangsawan, hal inilah yang menyebabkan istilah Kabalon tidak berkembang. Rakyat pada masa itu tetap menyebut dan mengenal daerah petilasan Malangkucecwara dengan nama Malang hingga diwariskan pada masa sekarang.
Sumber :
Kaskus
Kota Malang
Kamis, 14 Januari 2010
Renungkan
disaat dirimu resah kudengar semua keluhmu..
disaat kuresah kudengar acuhmu
disaat dirimu lemah kuberlari menguatkanmu..
disaat kulemah kau berlari menjauh
disaat ragamu letih jemariku menemanimu hingga terlelap..
disaat ragaku letih hanya perih yg kudekap
disaat kata-katamu menusuk jiwaku teruntai doa untukmu..
disaatku berucap kata2ku menjadi sampah dihadapanmu
disaat kedatanganmu disaat itu pula kepergianmu..tapi
bukan kenistaan yang kuharapkan untukmu,bukan..
bukan kata maafmu yang ingin aku dengar, bukan..
bukan pula hatimu yang kupinta,bukan..
ak hanya ingin kau tau..
ada yang lebih tersiksa dari hatimu,
ada yang lebih tersakiti dari jiwamu,
ada yang lebih tertekan dari pikiranmu,
ada yang lebih terlemahkan dari ragamu,
ada yang lebih tak menentu dari arah hidupmu,
disaat kuresah kudengar acuhmu
disaat dirimu lemah kuberlari menguatkanmu..
disaat kulemah kau berlari menjauh
disaat ragamu letih jemariku menemanimu hingga terlelap..
disaat ragaku letih hanya perih yg kudekap
disaat kata-katamu menusuk jiwaku teruntai doa untukmu..
disaatku berucap kata2ku menjadi sampah dihadapanmu
disaat kedatanganmu disaat itu pula kepergianmu..tapi
bukan kenistaan yang kuharapkan untukmu,bukan..
bukan kata maafmu yang ingin aku dengar, bukan..
bukan pula hatimu yang kupinta,bukan..
ak hanya ingin kau tau..
ada yang lebih tersiksa dari hatimu,
ada yang lebih tersakiti dari jiwamu,
ada yang lebih tertekan dari pikiranmu,
ada yang lebih terlemahkan dari ragamu,
ada yang lebih tak menentu dari arah hidupmu,
Bertengkar Itu Perlu
Banyak orang memilih diam dan menyimpan amarah saat bertengkar. Bahkan banyak pula yang menghindari pertengkaran dengan alasan menjaga keutuhan hubungan.
Wah, sudah bukan zamannya lagi takut dengan pertengkaran. Toh, menyimpan amarah, mendiamkan, berpura-pura semua baik-baik saja, berpura-pura semuanya seiring sejalan, berpura-pura tidak terbetik pikiran apa-apa saat suatu persoalan datang, takkan menyelesaikan persoalan itu sendiri.
Itu sebabnya, bertengkar diperlukan. Bahkan kadang bertengkar malah bisa merekatkan jiwa. Coba ingat apa yang Anda dan pasangan lakukan saat bertengkar? Anda berdua pasti berusaha menyatakan bahwa masing-masinglah yang paling benar dengan mengajukan berbagai argumen.
Tambah mesra
Saat bertengkar, kita tidak memberi ruang untuk berbasa-basi. Kita hanya mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran dan hati. Makanya, pertengkaran bisa menjadi sarana untuk belajar tentang apa yang disukai dan tidak disukai pasangan.
Menurut para psikolog, bertengkar bisa menjadi salah satu cara untuk menambah kemesraan dengan pasangan. Bagaimana tidak? Setelah bertengkar dan hubungan membaik lagi, biasanya kita akan makin mesra dan lengket. Bahkan, ada sebuah penelitian yang mengatakan bahwa tidak pernah bertengkar sama buruknya dengan konflik yang konstan.
Namun, bukan berarti untuk mesra Anda dan pasangan harus selalu bertengkar. Pertengkaran yang terjadi terus-menerus juga tak baik bagi cinta Anda berdua. Pasti ada efek negatifnya. Hubungan lama-lama bisa retak. Bisa juga muncul rasa takut bahwa Anda tidak menjadi penting lagi bagi pasangan.
Pikiran terbuka
Jadi, bertengkarlah secara sehat. Bagaimana caranya? Berdebatlah. Bertengkar dengan diam dan menyimpan kemarahan justru bisa menyabotase hubungan Anda dan menjadi bom waktu yang akan memisahkan Anda dan pasangan.
Begitu pula jika Anda bertengkar dengan cara saling mengkritik dan menghina. Potensi berpisah akan lebih besar lagi. Jadi, berargumentasilah mengenai masalah yang Anda berdua mengerti. Lalu, cari solusinya.
Bertengkar memang bisa menjadi alat untuk mempercepat penyelesaian masalah antara Anda dan pasangan. Namun, ada satu hal yang perlu diingat. Bertengkar yang sehat memerlukan pikiran yang terbuka, dan tak selalu menghasilkan kata sepakat. Pasalnya, ini bisa memperjelas perbedaan yang Anda dan pasangan miliki, sekaligus memberikan solusi.
Kunci untuk berargumentasi dengan baik adalah Anda berhak untuk tidak setuju dengan pendapat pasangan. Namun, Anda tetap harus menghormatinya. Begitu pula dengan pasangan. Di sinilah pikiran terbuka itu diperlukan.
Hindari masalah lama
Hati-hati, jika pertengkaran yang semula sehat mulai memanas. Jika suara marah Anda sudah mulai menggelegar dan mengatakan hal yang sama berulang-ulang, artinya Anda sudah harus menghentikan dan meninggalkan perdebatan itu untuk sementara waktu. Pasalnya, pertengkaran itu sudah tidak lagi sehat. Mengapa?Ketika pertengkaran semakin memanas, detak jantung dan hormon stres akan meningkat. Sisi emosional otak Anda menjadi tinggi dan menutup sisi logika Anda. Akibatnya, Anda tidak sanggup lagi bertengkar dengan emosi yang terkendali.
Jika salah satu dari Anda sangat marah, pertengkaran memang bisa jadi salah kaprah dan akhirnya merusak. Jadi, hindari mengungkit masa lalu karena membahas masa lalu hanya akan membangkitkan luka lama. Di saat-saat seperti ini, Anda tak akan bisa berbicara tenang atau berpikir jernih.
Pergi dari pertengkaran
Nah, bagaimana menghindari kata-kata kasar atau melakukan kekerasan fisik? Anda perlu menenangkan diri. Sadari segera jika keadaan mulai panas. Begitu juga jika Anda melihat pasangan sangat emosi. Sebaiknya bersikap lebih tenang dan minta time out, alias waktu jeda.
Bila pertengkaran Anda sering cepat menghebat, cobalah untuk meredamnya. Buat aturan, bila salah satu dari Anda memberikan tanda time out, hentikan pertengkaran. Tak perlu bertanya mengapa. Cukup tenangkan diri saja. Bila sudah larut malam dan Anda merasa sudah waktunya tidur, tidurlah.
Namun, jangan tinggalkan pertengkaran untuk selamanya. Inilah masalah yang terjadi pada banyak pasangan. Mereka bertengkar terlalu sebentar dan meninggalkan pertengkaran karena sangat marah. Namun, mereka tidak membahasnya lebih lanjut dengan alasan merasa tak nyaman untuk memulainya kembali. Psst... itu tidak sehat, lho!
Jadi, buatlah komitmen akan membahas lagi bila sudah tenang dan bisa bicara dengan kepala dingin
Wah, sudah bukan zamannya lagi takut dengan pertengkaran. Toh, menyimpan amarah, mendiamkan, berpura-pura semua baik-baik saja, berpura-pura semuanya seiring sejalan, berpura-pura tidak terbetik pikiran apa-apa saat suatu persoalan datang, takkan menyelesaikan persoalan itu sendiri.
Itu sebabnya, bertengkar diperlukan. Bahkan kadang bertengkar malah bisa merekatkan jiwa. Coba ingat apa yang Anda dan pasangan lakukan saat bertengkar? Anda berdua pasti berusaha menyatakan bahwa masing-masinglah yang paling benar dengan mengajukan berbagai argumen.
Tambah mesra
Saat bertengkar, kita tidak memberi ruang untuk berbasa-basi. Kita hanya mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran dan hati. Makanya, pertengkaran bisa menjadi sarana untuk belajar tentang apa yang disukai dan tidak disukai pasangan.
Menurut para psikolog, bertengkar bisa menjadi salah satu cara untuk menambah kemesraan dengan pasangan. Bagaimana tidak? Setelah bertengkar dan hubungan membaik lagi, biasanya kita akan makin mesra dan lengket. Bahkan, ada sebuah penelitian yang mengatakan bahwa tidak pernah bertengkar sama buruknya dengan konflik yang konstan.
Namun, bukan berarti untuk mesra Anda dan pasangan harus selalu bertengkar. Pertengkaran yang terjadi terus-menerus juga tak baik bagi cinta Anda berdua. Pasti ada efek negatifnya. Hubungan lama-lama bisa retak. Bisa juga muncul rasa takut bahwa Anda tidak menjadi penting lagi bagi pasangan.
Pikiran terbuka
Jadi, bertengkarlah secara sehat. Bagaimana caranya? Berdebatlah. Bertengkar dengan diam dan menyimpan kemarahan justru bisa menyabotase hubungan Anda dan menjadi bom waktu yang akan memisahkan Anda dan pasangan.
Begitu pula jika Anda bertengkar dengan cara saling mengkritik dan menghina. Potensi berpisah akan lebih besar lagi. Jadi, berargumentasilah mengenai masalah yang Anda berdua mengerti. Lalu, cari solusinya.
Bertengkar memang bisa menjadi alat untuk mempercepat penyelesaian masalah antara Anda dan pasangan. Namun, ada satu hal yang perlu diingat. Bertengkar yang sehat memerlukan pikiran yang terbuka, dan tak selalu menghasilkan kata sepakat. Pasalnya, ini bisa memperjelas perbedaan yang Anda dan pasangan miliki, sekaligus memberikan solusi.
Kunci untuk berargumentasi dengan baik adalah Anda berhak untuk tidak setuju dengan pendapat pasangan. Namun, Anda tetap harus menghormatinya. Begitu pula dengan pasangan. Di sinilah pikiran terbuka itu diperlukan.
Hindari masalah lama
Hati-hati, jika pertengkaran yang semula sehat mulai memanas. Jika suara marah Anda sudah mulai menggelegar dan mengatakan hal yang sama berulang-ulang, artinya Anda sudah harus menghentikan dan meninggalkan perdebatan itu untuk sementara waktu. Pasalnya, pertengkaran itu sudah tidak lagi sehat. Mengapa?Ketika pertengkaran semakin memanas, detak jantung dan hormon stres akan meningkat. Sisi emosional otak Anda menjadi tinggi dan menutup sisi logika Anda. Akibatnya, Anda tidak sanggup lagi bertengkar dengan emosi yang terkendali.
Jika salah satu dari Anda sangat marah, pertengkaran memang bisa jadi salah kaprah dan akhirnya merusak. Jadi, hindari mengungkit masa lalu karena membahas masa lalu hanya akan membangkitkan luka lama. Di saat-saat seperti ini, Anda tak akan bisa berbicara tenang atau berpikir jernih.
Pergi dari pertengkaran
Nah, bagaimana menghindari kata-kata kasar atau melakukan kekerasan fisik? Anda perlu menenangkan diri. Sadari segera jika keadaan mulai panas. Begitu juga jika Anda melihat pasangan sangat emosi. Sebaiknya bersikap lebih tenang dan minta time out, alias waktu jeda.
Bila pertengkaran Anda sering cepat menghebat, cobalah untuk meredamnya. Buat aturan, bila salah satu dari Anda memberikan tanda time out, hentikan pertengkaran. Tak perlu bertanya mengapa. Cukup tenangkan diri saja. Bila sudah larut malam dan Anda merasa sudah waktunya tidur, tidurlah.
Namun, jangan tinggalkan pertengkaran untuk selamanya. Inilah masalah yang terjadi pada banyak pasangan. Mereka bertengkar terlalu sebentar dan meninggalkan pertengkaran karena sangat marah. Namun, mereka tidak membahasnya lebih lanjut dengan alasan merasa tak nyaman untuk memulainya kembali. Psst... itu tidak sehat, lho!
Jadi, buatlah komitmen akan membahas lagi bila sudah tenang dan bisa bicara dengan kepala dingin
Langganan:
Komentar (Atom)